COSO 1992, Internal Control-Integrated Framework

July 9, 2011 at 5:53 am Leave a comment

Oleh  :  Nurfita Kusuma Dewi

Selama sepuluh tahun terakhir ini, pengendalian intern (internal control) merupakan subyek yang menjadi perhatian luas dan sering diperdebatkan oleh auditor intern, auditor ekstern, penyusun laporan keuangan, asosiasi profesional, dan badan-badan legislatif pengatur di Amerika Serikat (Thomas P. Kelly, 1993).

Aspek Pengendalian Internal

1.  Apa yang membentuk pengendalian intern yang efektif,

2.  Hubungan pengendalian intern terhadap laporan keuangan yang dapat diandalkan, dan peranan pengendalian intern dalam strategi audit laporan keuangan yang efektif dan efisien.

SAS Nomor 55 dari AICPA

Pada tahun 1988, AICPA menerbitkan SAS Nomor 55 tentang Consideration of Internal Control in Financial Statement Audit (AU 319).  Standar tersebut mendefinisikan dan menggambarkan unsur-unsur pengendalian intern yang efektif untuk tujuan audit laporan keuangan dan menjelaskan bagaimana CPA yang independen ketika melakukan laporan keuangan.

The Committee of Sponsoring Organization (COSO)

Setelah beberapa kegagalan audit yang signifikan terjadi selama tahun 1980an di Amerika Serikat, maka di tahun 1992 The Committee of Sponsoring Organization of The Treadway Committee (COSO) dibentuk untuk mendefinisikan kembali pengendalian intern dan kriteria untuk menentukan efektivitas suatu sistem pengendalian intern.  COSO menerbitkan laporan Internal Control-Integrated Framework yang terdiri dari empat jilid laporan berdasarkan hasil riset, diskusi, perdebatan, pertimbangan, draft, eksposur yang diajukan kepada konstituen.

Laporan COSO menggambarkan pandangan dari banyak partisipan, meliputi lima anggota organisasi yang mensponsori yakni  :

1.  The American Institute of Certified Public Accountants (AICPA),

2.  The Institute of Internal Auditors (IIA),

2.  The American Accounting Association (AAA),

3.  The Institute of Management Accountants (IMA),

4.  Anggota direksi,

5.  Direktur auditor intern,

dan lain-lain.

Laporan COSO 1992 mengubah cara pandang terhadap pengendalian intern.  Meskipun laporan COSO merupakan definisi konsensus, namun isinya dibangun untuk memberikan suatu kerangka kerja pengendalian intern umum.  Laporan COSO didesain untuk mengakomodasi perspektif berbagai pihak, serta memuaskan kebutuhan semua kelompok yang berhubungan dengan pengendalian intern.

Maka tak heran jika laporan COSO pun mendapat akseptasi yang luas dari manajemen entitas, auditor ekstern dan intern, Chief Financial Officer (CFO), akuntan manajemen, dan otoritas pengatur.  Manajemen dan departemen audit intern dari berbagai entitas, baik pencari laba maupun tidak, menggunakannya untuk menerapkan dan menilai pengendalian intern.

1.  Badan legislatif dan pengatur di Amerika Serikat menyebutkan laporan COSO dalam hukum dan peraturan.

2.  Auditor ekstern mengadopsi laporan COSO dalam standar profesional dengan menerbitkan SAS Nomor 78 yang menyatukan kriteria COSO.  SAS Nomor 78, pengganti SAS Nomor 55, merupakan standar profesional utama yang menerapkan standar kedua pekerjaan lapangan.  Maka laporan COSO pun otomatis memiliki pengaruh yang besar terhadap standar auditing.

Definisi Pengendalian Internal

COSO mendefiniskan pengendalian intern sebagai berikut  :

Internal Control is a process, effected by an entity’s board of directors, management, and other personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objectives in the following categories  :

  • Effectiveness and efficiency of operations,
  • Reliability of financial reporting,
  • Compliance with applicable laws and regulations.

Dalam setiap kategori tujuan, organisasi menetapkan tujuan pengendalian (control objectives) tersendiri dan prosedur pengendalian (control procedures) untuk mencapai tujuan luas tersebut.  Apabila organisasi ingin mencapai tujuan pengendalian (control objectives) tersebut, lima komponen pengendalian harus ada.  Tujuan pengendalian (control objectives) dalam setiap kategori tidak mungkin melepaskan diri dengan kelima komponen pendukung, yakni  :

1.  Lingkungan Pengendalian (Control Environment), menciptakan suasana pengendalian dalam suatu organisasi dan mempengaruhi kesadaran personil organisasi tentang pengendalian.

2.  Penaksiran Risiko (Risk Assessment), yaitu identifikasi, analisis, dan pengelolaan risiko entitas yang berkaitan dengan penyusunan laporan keuangan, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

3.  Aktivitas Pengendalian (Control Activities), yaitu kebijakan dan prosedur yang dibuat untuk memberikan keyakinan bahwa petunjuk yang dibuat oleh manajemen dilaksanakan.

4.  Informasi dan Komunikasi (Information Processing and Communication), yaitu sistem akuntansi yang diciptakan untuk mengidentifikasi, merakit, menggolongkan, menganalisis, mencatat, dan melaporkan transaksi suatu entitas, serta menyelenggarakan pertanggungjawaban kekayaan dan utang entitas tersebut.

5.  Monitoring (Monitoring), yaitu proses penilaian mutu kinerja sistem pengendalian intern, sepanjang waktu.

Sumber  :  COSO of The Treadway Commission

Sumber  :  Mark R. Simons (1997, page 69)

Sumber  :  Arens (2000, page 292)

Sumber  :  Larry F. Konrath (1999, page 208)

COSO Vs Standard 300

Sesuai dengan Standards for The Professional Practice of Internal Auditing (Standard 300), Scope of Work, 5 tujuan utama pengendalian intern adalah untuk meyakinkan  :

1.  Keandalan dan integritas informasi,

2.  Ketaatan dengan kebijakan, rencana, prosedur, hukum, dan peraturan.

3.  Mengamankan aktiva,

4.  Pemakaian sumberdaya yang ekonomis dan efisien,

5.  Pencapaian tujuan dan sasaran operasi atau program yang ditetapkan.

Lalu, apakah tujuan Standard 300 di atas mempunyai perbedaan fundamental dalam falsafah dengan tujuan pengendalian intern menurut laporan COSO?

Tujuan pengendalian COSO berhubungan dengan efektivitas dan efisiensi operasi yang meliputi organisasi secara keseluruhan dan bermaksud untuk mengaitkan dengan misi dasar entitas – alsan fundamental berada.

Tujuan pengendalian menurut Standard 300 tercakup dalam COSO, yakni  :

1.  Keandalan dan integritas informasi  :

Komponen pengendalian “infomasi dan komunikasi” secara utuh menjelaskan dan mencakup tujuan tersebut.

2.  Ketaatan dengan kebijakan, rencana dan prosedur organisasi  :

Komponen pengendalian “aktivitas pengendalian” menunjukkan bahwa penetapan dan ketaatan yang diperkuat terhadap kebijakan dan prosedur perlu untuk mempertahankan organisasi dalam jalur terhadap pencapaian tujuan.

3.  Mengamankan harta, pemakaian sumber daya yang ekonomis dan efisien dan pencapaian tujuan dan sasaran yang ditetapkan  :

Ketiga tujuan tersebut secara langsung dinyatakan dalam halaman pertama Executive Summary COSO  :  “Kategori pertama (efektivitas dan efisiensi operasi) menyatakan tujuan utama dari entitas, termasuk kinerja dan tujuan kemampulabaan dan pengamanan sumber daya.”

 

.

.::  Daftar Pustaka  ::.

Tunggal, Amin Widjaja.  COSO-Based Auiditing.  Harvarindo. Jakarta : 2000

About these ads

Entry filed under: audit. Tags: , , , , .

Database Mirroring Manajemen Kinerja Sektor Publik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


The Shining Moon

Categories

Quotes of The Day

Visitors

  • 53,585 People

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: