Seni Perang “Sun-Tzu” dalam Manajemen Strategis

April 30, 2011 at 5:24 am Leave a comment

Bagi penyuka film perang kolosal, tentu tidak akan melewatkan untuk menonton “Red-Cliff”.  Film yang disutradarai oleh John Woo ini berlatar belakang Tiga Kerajaan Cina pada tahun 208 M, di zaman dinasti Han.  Memakan biaya sekitar US$ 80 juta dollar, film ini menyajikan banyak adegan menarik utamanya tentang semangat pantang menyerah pasukan Liu Pei dan Wu dalam menghadapi pasukan Cao-cao yang jumlahnya berkali lipat lebih banyak dan strategi serta formasi perang Cina di zaman Zhu Ge Liang.

Maka saya pun kembali teringat pada film “Red Cliff” ketika mendapatkan mata kuliah Strategic Management di semester 7 ini.  Kajian manajemen strategis didasari oleh warisan militer yang kuat.  Ketika selama ini mahasiswa akuntansi kerap disuguhi dengan analisis perhitungan angka-angka eksak, maka dalam kuliah manajemen strategis ini mahasiswa justru diajak “bertualang” menggunakan intuisi dalam perencanaan strategi bisnis.

Istilah-istilah seperti tujuan, misi, kekuatan, dan kelemahan pun pertama kali dirumuskan untuk menghadapi berbagai persoalan di medan tempur.  Kata strategi berasal dari bahasa Yunani strategos, yang merujuk pada jenderal militer.  Strategos menyatukan stratos (pasukan) dan ago (memimpin).  Menurut Webster’s New World Dictionary, strategi adalah “ilmu perencanaan dan pengarahan operasi militer berskala besar, ilmu bagaimana memanuver kekuatan ke dalam posisi yang paling menguntungkan sebelum benar-benar berhadapan dengan musuh.”

Dalam banyak hal, strategi bisnis memang mirip dengan strategi militer. Tujuan utama dari strategi bisnis maupun militer adalah  memperoleh keunggulan kompetitif.  Baik organisasi bisnis maupun militer berusaha memanfaatkan kekuatan mereka untuk mengeksploitasi kelemahan lawan.  Jika strategi suatu perusahaan salah (tidak efektif), semua efisiensi di dunia ini tidak akan cukup untuk menghantarnya pada kesuksesan.  Keberhasilan bisnis atau militer biasanya bukan merupakan hasil yang baik dari strategi yang kebetulan.

Baik organisasi bisnis maupun militer mesti beradaptasi pada perubahan dan terus-menerus memperbaiki diri agar sukses.  Tak jarang,perusahaan tidka mau mengubah strategi mereka ketika kondisi lingkungan dan persaingan membutuhkan adanya perubahan.  Gluck menawarkan sebuah contoh militer klasik dari hal tersebut  :

Ketika Napoleon menang, hal itu dikarenakan lawan-lawannya terpaku pada strategi, taktik, dan organisasi perangdari masa sebelumnya.  Ketika ia kalah -melawan Wellington, Rusia, dan Spanyol- itu karena ia menggunakan strategi yang telah paten melawan musuh-musuh yang punya pikiran segar, yang mengembangkan strategi bukan dari perang sebelumnya, namun perang yang selanjutnya.

Alih-alih, keberhasilan adalah produk dari kepekaan terus menerus pada kondisi eksternal dan internal yang terus berubah serta perumusan dan penerapan adaptasi yang cerdas atas berbagai kondisi yang ada.  Elemen kejutan memberikan keunggulan kompetitif yang besar, baik dalam strategi militer maupun bisnis.  Sistem informasi yang menyediakan data mengenai strategi dan sumber daya lawan atau pesaing juga sama pentingnya.

Satu perbedaan mendasar antara strategi militer dan bisnis adalah bahwa strategi bisnis dirumuskan, diterapkan, dan dinilai dengan asumsi kompetisi, sementara strategi militer didasarkan atas asumsi konflik.  Namun demikian, konflik militer dan persaingan bisnis sangat mirip, sehingga banyak teknik manajemen strategis dapat diterapkan untuk keduanya.

Para penyusun strategi bisnis memiliki akses ke wawasan-wawasan berharga para pemikir militer yang telah diolah selama kurun waktu yang panjang.  Perumusan dan penerapan strategi yang unggul dapat mengalahkan keunggulan lawan dalam hal jumlah dan sumber daya.

Hasil belajar para penyusun strategi militer selama berabad-abad ini pun memberi keuntungan bagi para penyusun strategi bisnis dewasa ini.  Salah satu strategi perang yang kerap digunakan dalam strategi perencanaan bisnis adalah seni perang “Sun Tzu”.  Gantilah kata perang atau pertempuran dengan strategi atau perencanaan strategis maka petikan-petikan naratif dari Sun Tzu berikut ini dapat diberlakukan untuk strategi bisnis pada perusahaan dewasa ini dimana berkompetisi secara agresif diperlukan untuk mampu bertahan dan tumbuh.

  • Perang adalah sesuatu yang sangat penting bagi sebuah negara  :  persoalan hidup atau mati, jalan menuju kemenangan atau kehancuran.  Karenanya, tak bisa tidak, perang mesti dipelajari secara cermat.
  • Secara umum, di dalam perang kebijakan yang terbaik adalah merebut sebuah negara dalam keadaan utuh; menghancurkannya masih kalah baik dengan kebijakan yang ini.  Menangkap seluruh pasukan musuh lebih baik daripada menghancurkannya; merebut sebuah resimen, sebuah perkumpulan, atau sebuah kelompok lebih baik daripada meremukkannya.  Sebab, memenangkan seratus perang dalam seratus pertempuran bukanlah puncak tertinggi dari keterampilan.  Menaklukkan musuh tanpa bertempur adalah hal yang sempurna.  Mereka yang terampil dalam perang mengalahkan musuh tanpa perlu bertempur.
  • Seni menggunakan pasukan adalah seperti berikut  :  Ketika sepuluh pasukan kita berhadapan dengan satu pasukan musuh, kepung dia.  Ketika kekuatan kita lima kali lipat, serang mereka.  Jika kekuatan kita dua kali lipat, pecah-belah mereka.  Jikaseimbang, Anda bisa melawannya dengan perencanaan yang baik.  Jika lebih lemah, siapkan cara untuk menarik diri.  Dan, jika dalam segalanya Anda kalah, carilah jalan untuk menghindarinya.
  • Kenalilah musuh Anda dan diri Anda sendiri, maka dalam seratus pertempuran Anda tidak akan pernah terkalahkan.  Bila Anda tidak tahu tentang musuh Anda, tetapi mengenal diri Anda sendiri, peluang Anda untuk menang atau kalah seimbang.  Jika Anda tidak mengenal musuh Anda dan diri Anda sendiri, bisa dipastikan Anda akan kalah dalam setiap pertempuran.
  • Jika Anda memutuskan untuk terjun ke medan pertempuran, jangan umumkan niat atau rencana Anda.  Lakukan segalanya seperti alamiah.

Kompetisi adalah sebuah sunatullah dalam hidup.  Tapi bagaimana strategi dan etika kompetisi yang selama ini kita usung hendaknya harus dipertimbangkan dengan baik.  Maka ketika Anda memutuskan untuk menantang perusahaan (atau lawan) lain, maka kalkulasi, estimasi, analisis, dan pemosisian yang banyak akan membawa kemenangan.  Sebaliknya, sedikit perhitungan mengakibatkan kekalahan.

Nah, perencanaan strategi seperti apa yang Anda hendak usung dalam kompetisi hidup ini?  (blog.akusukamenulis)

Sumber  :

David, Fred R. Manajemen Strategis  :  Konsep.  2009.  Jakarta  :  Salemba Empat.

Entry filed under: strategic management. Tags: , , , , .

Gudang Data dalam Customer Relationship Management Nature of Strategy Analysis and Choice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


The Shining Moon

Categories

Quotes of The Day

Visitors

  • 124,489 People

%d bloggers like this: