RBV, Sebuah Pendekatan Audit Internal

May 4, 2011 at 6:50 am Leave a comment

Semangat yang besar selalu mendapat perlawanan sengit dari pemikiran yang sedang-sedang saja.  —  (Albert Einstein)

 

diresume oleh Nurfita K. Dewi

.

Berbeda dengan pendekatan organisasi industrial (industrial organization-I/O) yang menyatakan bahwa faktor-faktor (industri) eksternal adalah lebih penting dalam kompetisi, pandangan berbasis sumber daya (Resource Based View-RBV) justru mengatakan bahwa sumber daya internal lebih penting bagi perusahaan dalam mempertahankan keunggulan kompetitif.  Dalam teori ini, Michael Porter sebagai penganut paham I/O dihadapkan pada kesimpulan Robert Grant yang mengatakan  :

Dalam dunia di mana preferensi konsumen sangat dinamis, identitas konsumen berubah, dan teknologi yang dimaksudkan untuk melayani kebutuhan konsumen terus-menerus berkembang; orientasi yang terfokus secara eksternal tidak akan memberi sebuah landasan yang aman bagi perumusan strategi jangka panjang.  Ketika lingkungan eksternal terus menerus berubah, sumber daya, dan kapabilitas perusahaan sendiri kiranya merupakan landasan yang lebih stabil untuk mendefinisikan identitasnya.  Oleh karenanya, definisi bisnis dalam artian “apa yang sanggup dilakukannya” menawarkan landasan yang lebih tahan lama bagi strategi daripada definisi yang didasarkan pada “kebutuhan apa yang coba dipenuhi oleh bisnis.”  (David, Fred R. 12th edition : 2009)

Setiap perusahaan berusaha untuk memiliki keunggulan kompetitif sebagai sebuah kekuatan agar mampu bertahan dalam dunia bisnis.  Keunggulan kompetitif dibangun dengan melibatkan kemampuan untuk memanfaatkan kompetensi khusus.  Kompetensi khusus (distinctive competencies) sendiri didefinisikan sebagai kekuatan sebuah perusahaan yang tidak dapat dengan mudah ditandingi atau ditiru oleh pesaing.

Kelemahan (diperbaiki + diubah menjadi kekuatan)  =  Kompetensi khusus

.

Proses Melakukan Audit Internal
Mirip dengan proses audit eksternal dengan pendekatan I/O, audit internal RBV juga melibatkan perwakilan manajer dan karyawan dari seluruh perusahaan guna menentukan kekuatan dan kelemahan perusahaan.  Hanya saja proses audit internal memberikan kesempatan lebih luas bagi para partisipan untuk memahami bagaimana pekerjaan, departemen, dan divisi mereka dapat berfungsi secara tepat dalam organisasi secara keseluruhan.  Sehingga dalam perkembangannya, audit internal menjadi sebuah sarana atau forum yang sangat bagus untuk memperbaiki proses komunikasi dalam organisasi.

Komunikasi kiranya merupakan kata penting dalam manajemen.  Manajemen strategis merupakan proses yang sangat interaktif dan membutuhkan koordinasi yang efektif di antara para manajer perusahaan (managemet, marketing, finance/accounting, production/operations, research & development, management information systems).  Dan sebuah manfaat besar yang akan didapatkan oleh perusahaan manakala manajer dan karyawan memahami bagaimana pekerjaan mereka memengaruhi area dan aktivitas perusahaan yang lain.

Sebaliknya, kegagalan untuk menyadari dan memahami hubungan di antara area fungsional bisnis dapat menghambat manajemen strategis, dan jumlah hubungan yang harus dikelola tersebut meningkat secara dramatis seiring dengan ukuran, keberagaman, penyebaran geografis, dan jumlah produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan.  Beberapa perusahaan bahkan memberikan penekanan yang jauh lebih besar pada satu fungsi dengan mengorbankan fungsi yang lain.  Hal ini jelas langkah yang salah, karena seperti disebutkan di awal, salah satu kunci bagi keberhasilan organisasional adalah koordinasi dan kesepahaman yang efektif antarmanajer dari seluruh area fungsional bisnis.

Dalam perencanaan, George kembali menuliskan bahwa  :

Secara konseptual, kita bisa memisahkan perencanaan demi maksud diskusi teoritis dan analisis, tetapi dalam praktiknya, perencanaan bukanlah sebuah entitas yang beda atau bisa dipisahkan.  Fungsi perencanaan bercampur dengan semua fungsi bisnis yang lain dan tidak dapat dipisahkan, seperti tinta yang dicampur dengan air.  Fungsi perencanaan menyebar dan menjadi bagian dari keseluruhan pengelolaan sebuah organisasi.  (David, Fred R. 12th edition :  2009)

.

Resource-Based View (RBV)

Pandangan Berbasis Sumber Daya (RBV) populer di tahun 1990.  Menurut pendekatan ini, kinerja organisasional akan sangat ditentukan oleh beragam sumber daya internal yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori yakni  :  sumber daya fisik, sumber daya manusia, dan sumber daya organisasional.  Teori RBV berpendapat bahwa sumber dayalah yang sesungguhnya membantu perusahaan menangkap peluang dan menetralkan ancaman.

Pengelolaan yang strategis melibatkan pengembangan dan eksploitasi sumber-sumber daya dan kapabilitas unik perusahaan, mempertahankan, serta memperkuat sumber-sumber daya tersebut.   Para teoretikus RBV berpendapat bahwa akan menguntungkan bagi sebuah perusahaan untuk menjalankan strategi yang saat ini tidak diterapkan oleh perusahaan pesaing mana pun.
Agar bernilai, suatu sumber daya hendaknya memiliki indikator-indikator empiris sebagai berikut  :  (1)  langka, (2) sulit untuk ditiru, atau (3) tidak dapat dengan mudah dicarikan penggantinya.  Tiga karakteristik sumber daya tersebut memampukan perusahaan untuk menerapkan strategi yang meningkatkan efisiensi dan keefektifan dan membawanya pada keunggulan kompetitif yang berkesinambungan.

Popularitas RBV terus tumbuh dan teori ini masih mencoba lebih memahami hubungan antara sumber daya dan keunggulan kompetitif berkesinambungan dalam manajemen strategis.  Ketika ditandingkan dengan I/O, orang tidak dapat mengatakan seyakin-yakinnya bahwa RBV yang akan selalu atau bahkan secara konsisten lebih penting dalam upaya mencapai keunggulan kompetitif.  Pemahaman yang baik atas hubungan I/O dan RBV justru merupakan kunci perumusan strategis yang efektif.  Para penyusun strategi diharapkan untuk terus mengidentifikasi perubahan positif dan menyaring perubahan negatif dalam upaya berkesinambungan mempertahankan keunggulan kompetitif sebuah perusahaan.  Inilah esensi dan tantangan manajemen strategis dan tak jarang kelangsungan hidup perusahaan bergantung pada hal yang satu ini.  (blog.kampuskeuangan)

.

:::  Aksi COPYPASTE tanpa menyebut sumber tulisan adalah sebuah PLAGIASI!  :::

.

Sumber  :  David, Fred R. “Manajemen Strategis” – Edisi ke-12.  Jakarta : 2009

Entry filed under: strategic management. Tags: , , , , .

Executive Support System (ESS) Strategi Pengelolaan Utang Negara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


The Shining Moon

Categories

Quotes of The Day

Visitors

  • 124,489 People

%d bloggers like this: