Activity Based Costing (ABC)

July 13, 2011 at 10:32 am 1 comment

Oleh  :  Nurfita Kusuma Dewi

 

Dulu, perusahaan membuat berbagai produk yang terbatas.  Misalnya, perusahaan televisi hanya memproduksi satu jenis televisi dan perusahaan mobil hanya memproduksi satu mobil tertentu.  Biaya tidak langsung (indirect cost) hanya mengambil bagian yang kecil dari biaya total.  Sehingga pemakaian sistem kalkulasi biaya yang sederhana untuk mengalokasikan biaya secara umum mudah dilakukan, tidak mahal, dan cukup akurat.

Namun ketika produk yang dihasilkan semakin beragam, perataan secara umum (broad averaging) justru mengakibatkan semakin tidak akuratnya biaya produk.  Penggunaan satu tarif overhead manufaktur untuk seluruh produk yang dihasilkan sering menghasilkan data biaya yang tidak dapat dipercaya.  Istilah perataan biaya seperti ini menyerupai pengolesan selai kacang (peanut-butter costing) dimana pendekatan kalkulasi biaya per produk menggunakan pemerataan secara umum dan seragam ke objek biaya.  Padahal masing-masing produk atau jasa tersebut dalam kenyataannya tidak menggunakan sumber daya dalam jumlah yang sama.

.

Peanut-Butter Costing

Secara sederhana perhatikan ilustrasi berikut!

Dina, Inge, Kisti, Nita, dan Vivin mendiskusikan perkembangan bisnis otomotif di sebuah restoran terkenal di kota Jakarta.  Mereka masing-masing memesan hidangan utama, hidangan penutup, dan minuman berbeda sesuai selera.  Total biaya tagihan kelima sekawan tersebut adalah :

Hidangan Utama

Hidangan Penutup

Minuman

Total

Dina

$  0

$ 20

$ 10

$30

Inge

11

20

5

36

Kisti

17

7

9

33

Nita

15

0

0

15

Vivin

18

5

4

27

Rata-rata

$ 12.2

$ 10.4

$ 5.6

$ 28.2

Jika total tagihan makanan sebesar $141 dibagi rata, maka biaya rata-rata makan per orang adalah $28.2.  Pendekatan pertaan biaya ini menyamaratakan biaya makan masing-masing orang tersebut.  Nita kemungkinan akan keberatan membayar $ 28.2 karena biaya makan sebenarnya yang harus ia bayar adalah $ 15.  Sebaliknya Inge dan Kisti akan dikenakan biaya yang lebih rendah dari yang seharusnya.

Perataan biaya seperti inilah yang dapat menyebabkan kalkulasi biaya produk atau jasa menjadi terlalu rendah atau terlalu tinggi.

  • Kalkulasi biaya produk yang terlalu rendah

Sebuah produk menghabiskan sumber daya yang lebih banyak tetapi justru memiliki biaya per unit yang rendah.

  • Kalkulasi biaya produk yang terlalu tinggi

Sebuah produk menghabiskan sumber daya yang lebih sedikit tetapi justru memiliki biaya per unit yang tinggi.

Perusahaan yang biaya produknya lebih rendah mungkin melakukan penjualan yang sebenarnya mengalami kerugian, meskipun terkesan bahwa penjualannya menguntungkan.  Jadi penjualan yang dilakukan mungkin menghasilkan lebih sedikit pendapatan dibandingkan biaya sumber daya yang digunakan.  Sementara perusahaan yang biaya produknya lebih tinggi bisa jadi menetapkan harga yang terlalu tinggi atas produknya, sehingga kehilangan pangsa pasar yang direbut oleh pesaing yang membuat produk sejenis.

.

Product-cost Cross-subsidization

Ketika salah satu produk perusahaan mengalami kekurangan biaya maka paling tidak ada satu produk lain yang mengalami kelebihan biaya maka terjadilah yang disebut dengan “subsidi silang biaya produk”.  Hal ini dapat terjadi karena biaya dialokasikan secara merata ke berbagai produk tanpa mempertimbangkan jumlah sumber daya yang digunakan setiap produk.

Merujuk contoh kasus pada tabel di atas maka jumlah subsidi silang biaya tagihan makanan setiap orang dapat dihitung dengan mudah.  Semua pos dalam biaya tagihan makanan tersebut merupakan biaya langsung (direct cost) sehingga mudah untuk ditelusuri.  Penghitungan jumlah subsidi silang akan menjadi lebih rumit ketika terdapat biaya tidak langsung (indirect cost dan overhead).  Misal, bagaimana mengalokasikan biaya sebotol air mineral yang diminum oleh dua orang atau lebih?

.

Kalkulasi Sederhana dengan Satu Pool Biaya Tidak Langsung

Sebelum membahas mengenai Activity Based Costing ada baiknya terlebih dahulu mengetahui tentang Sistem Kalkulasi Sederhana dengan Satu Pool Biaya Tidak Langsung.

Contoh  :

Perusahaan Merak memproduksi dua jenis lampu, yakni lampu neon dan lampu kristal.  Pembuatan lampu neon lebih mudah dan sederhana, berbeda dengan pembuatan lampu kristal yang membutuhkan keahlian, lebih rumit, dan proses pembuatan yang lebih detail.  Lingkungan bisnis untuk lampu neon sangat kompetitif sehingga pembeli cenderung memilih merk lain dibanding produk perusahaan Merak.  Harga lampu neon milik perusahaan Cendrawasih yang hanya memproduksi satu jenis lampu neon adalah $53, sedangkan lampu neon produksi Merak jauh lebih mahal yakni $63.  Untungnya, persaingan tidak terjadi pada produk lampu kristal.  Persaingan bisnis untuk lampu kristal masih belum kompetitif sehingga produk lampu kristal pun mampu dijual dengan harga $137.

Sebuah keputusan yang tepat harus diambil oleh perusahaan Merak atas permasalahan di atas.  Setidaknya ada dua opsi yang dapat dipilih oleh perusahaan Merak, yakni membiarkan pelanggan beralih ke merk lampu neon lain karena biaya produksi tidak dapat lagi dikurangi ataukah menurunkan biaya produksi untuk mempertahankan jumlah pelanggan yang menggunakan lampu neon produksi perusahaan Merak?  Opsi kedua jelas membutuhkan peninjauan ulang atas kalkulasi biaya produksi yang selama ini dilakukan oleh perusahaan Merak.  Dan di atas semua opsi tersebut, keberlangsungan perusahaan patut diperhitungkan sehingga harga yang ditetapkan atas lampu neon dan lampu kristal milik Merak harus melebihi total biaya produksi.

Laba Usaha = Total Biaya Produksi > Harga Jual

 Berikut adalah langkah-langkah pedoman dalam Kalkulasi Biaya Sederhana dengan Satu Pool Biaya Tidak Langsung  :

1.  Identifikasi Objek Biaya

Cost Object adalah sesuatu yang akan diukur cost-nya.  Dalam kasus ini, lampu neon dan lampu kristal merupakan objek biaya yang akan dihitung total biaya perancangan, pembuatan, dan pendistribusian lensa.  Pada tahun 2010 kemarin, total produksi lampu neon adalah sebanyak 60.000 unit sedangkan lampu krstal adalah sebanyak 15.000 unit.

2.  Identifikasi Biaya Langsung Produk

Direct Cost adalah biaya yang dapat ditelusuri langsung ke objek biaya.  Biaya langsung pembuatan lampu neon dan lampu kristal terdiri dari bahan baku langsung (direct material) dan tenaga kerja langsung (direct labor), dimana semua biaya diluar DM dan DL diidentifikasi sebagai biaya tidak langsung (indirect cost).

 

Lampu Neon

Lampu Kristal

TOTAL

Total Biaya

Biaya per Unit

Total Biaya

Biaya per Unit

DM

$ 1.125.000

$ 18.75

$ 675.000

$ 45

$ 1.800.000

DL

600.000

10

195.000

13

795.000

Total DC

$ 1.725.000

$ 28.75

$ 870.000

$ 58

$ 2.595.000

 

Entry filed under: cost accounting. Tags: .

Manajemen Kinerja Sektor Publik Pengendalian Aplikasi dalam Audit PDE

1 Comment Add your own

  • 1. zizaw  |  July 13, 2011 at 12:05 pm

    1.menuliskan pelajaran di blog, cara bagus belajar.
    2.jadi inget dulu presentasi kebagian ini…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


The Shining Moon

Categories

Quotes of The Day

Visitors

  • 124,489 People

%d bloggers like this: