Pengendalian Aplikasi dalam Audit PDE

July 19, 2011 at 4:54 pm Leave a comment

Oleh  :  Nurfita Kusuma Dewi

Sebuah pertanyaan mendasar hadir terkait pengendalian aplikasi.  Mengapa entitas memerlukan sebuah pengendalian aplikasi?  Basalamah (2011) mengatakan setidaknya ada lima tujuan pengendalian aplikasi yakni  untuk memperoleh keyakinan bahwa  :

1.  setiap transaksi telah diproses dengan lengkap dan hanya diproses satu kali;
2.  setiap data transaksi berisi informasi yang lengkap dan akurat;
3.  setiap pemrosesan transaksi dilakukan dengan benar dan tepat (andal);
4.  hasil-hasil pemrosesan digunakan sesuai dengan maksudnya (efektifitas);
5.  aplikasi-aplikasi yang ada dapat berfungsi terus.

Jadi, sejatinya mengapa sebuah entitas memerlukan pengendalian aplikasi?  Tentu saja karena entitas tersebut mengolah transaksi yang ada secara computerized, bukan manual.  Sebuah jawaban sederhana saja! 😀

Bagi auditor, pengendalian aplikasi adalah salah satu kategori pengendalian yang harus diuji sebagaimana dikehendaki oleh Standar Audit.  Pengendalian aplikasi merupakan pengendalian yang ditempatkan pada masing-masing sistem baik diprogramkan ke dalam sistem itu sendiri maupun bersifat manual.  Kategori pengendalian ini seharusnya berorientasi pada pemakai (user oriented) karena unsur manusialah yang mengendalikan masukan dan merekonsiliasikan keluaran dengan masukan tersebut.

Pengendalian aplikasi ini meliputi pengendalian atas masukan, pemrosesan, dan keluaran.

A.  PENGENDALIAN MASUKAN

1.  Tujuan  :

  • Transaksi diotorisasi sebagaimana mestinya sebelum diolah dengan komputer,
  • Transaksi tidak hilang, ditambah, digandakan, atau diubah tidak semestinya.
  • Transaksi yang keliru ditolak, dikoreksi, dan jika perlu, dimasukkan kembali secara tepat waktu,
  • Transaksi dientri ke terminal yang semestinya,
  • Data dientri ke periode akuntansi yang semestinya,
  • Data yang dientri telah diklasifikasikan dengan benar dan pada nilai transaksi yang valid,
  •  Data yang tidak valid tidak dientri pada saat transmisi,
  • Transaksi tidak dientri lebih dari sekali,
  • Data yang dientri tidak hilang selama masa transmisi berlangsung,
  • Transaksi yang tidak berotorisasi tidak dientri selama transmisi berlangsung.

2.  Kategori dasar dari masukan sistem PDE  :

a.  jurnal-jurnal atas transaksi yang terjadi,
b.  file maintenance transaction, misal  :  pengubahan harga dalam file induk,
c.  transaksi untuk mengetahui suatu informasi tertentu (inquiry transactions),
d.  transaksi perbaikan kesalahan.

3.  Jenis-jenis pengendalian atas masukan  :

(a)  Input Authorization Control

Pengendalian yang baik tidak memperbolehkan suatu transaksi diproses apabila transaksi tersebut tidak disertai dengan otorisasi dari pejabat yang berwenang.  Dalam bisnis tertentu, tahap otorisasi ini berjenjang-jenjang sehingga diperoleh jaminan bahwa hanya data yang valid saja yang masuk ke dalam sistem.  Selain itu sedapat mungkin dokumen-dokumen masukan mengandung bukti otorisasi dan harus telah ditelaah oleh control group.  Pengendalian atas masukan ini dapat dilakukan secara manual ataupun secara terprogram melalui sistem online.

Jenis input authorization control adalah  :

(i)  Prosedur-prosedur persetujuan,
Prosedur ini menjelaskan mengenai bagaimana dan oleh siapa data akan dimasukkan ke dalam dokumen masukan, dan meliputi hal-hal berikut  :

  • Bukti otorisasi (tanda tangan, dll) yang harus ditelaah oleh control group. Apabila tidak ada persetujuan sebelum pemrosesan, maka penelaahan terhadap keluaran harus dilakukan oleh seseorang yang tidak terlibat dalam pembuatan dokumen awal.
  • Dalam sistem online, otorisasi ditunjukkan dengan password dan authorization table.  Keduanya memastikan bahwa fail-fail tertentu hanya dapat diakses oleh personil-personil yang saha.  Password dapat dibuat satu kali dari awal hingga selesai atau untuk setiap selesainya suatu proses yang bersangkutan harus memasukkan kata sandi lagi untuk dapat melaksanakan proses berikutnya.  Sementara authorization table menunjukkan siapa saja yang memiliki otorisasi untuk mengakses sistem PDE, baik pengolahannya maupun datanya.
  • Transaksi-transaksi yang telah dikelompokkan (batch) disetujui sebelum diproses.
  • Transaksi pemeliharaan fail disetujui oleh penyelia di tempat asal mula transaksi tersebut dibuat.
  • Batasan-batasan mengenai persetujuan terhadap transaksi tertentu.

(ii)  Prenumbered document,
Urutan formulir akan diuji selama pemrosesan berlangsung.  Apabila terjadi formulir tidak urut (hilang) maka harus ditelaah oleh pejabat yang berwenang di departemen asal formulir tersebut dikirimkan.

(iii)  Penelaahan oleh Control Group,
Transaksi yang diproses dalam bentuk batch atau harus dilaksanakan oleh departemen PDI harus ditelaah dahulu oleh control group.

(iv)  Transaction Log,
Dari penelaahan atas log dapat diketahui frekuensi kesalahan dalam terminal serta adanya kejadian-kejadian lainnya yang tidak semestinya.  Semua terminal yang digunakan dicatat dalam tape atau disk.

(b)  Input Validation Control

Pengendalian ini telah terprogram di dalam sistem dan dimaksudkan untuk memperoleh keyakinan bahwa semua data masukan adalah akurat, lengkap, dan memadai (logis).  Dalam kaitannya dengan pengendalian menurut tujuannya, maka validasi masukan juga termasuk dalam “pengendalian detektif”.

Fungsi input validation control  :
(i)    untuk mendeteksi kehilangan data,
(ii)   untuk menguji perhitungan matematis,
(iii)  untuk menjamin adanya pembukuan transaksi secara benar.

Jenis input validation control  :
(i)  Numeric and alphabetic check,
Istilah lain yang digunakan adalah field test yang berfungsi menetapkan field tertentu adalah angka, sedangkan field lainnya adalah huruf.  Apabila terjadi kesalahan maka komputer akan memberitahukan hal ini sebagai suatu kesalahan.

(ii)  Logic check,
Pengujian ini dimaksudkan untuk menilai atau membandingkan suatu logis tertentu dengan keadaan data yang sebenarnya.  Misal, jurnal penyusutan akan dianggap komputer sebagai tidak logis ketika kreditnya adalah kas atau saldo kas bertanda negatif.

(iii)  Sign check,
Program ini menguji apakah suatu field tertentu memiliki simbol atau tanda matematis yang sesuai, apakah suatu angka dalam field tertentu harus positif (debet) ataukah negatif (kredit).

(iv)  Valid field size check,
Pengujian ini mengharuskan suatu field mempunyai besar tertentu, enam digit misalnya.

(v)  Limit check,
Program ini menguji apakah suatu field tertentu berada dalam suatu batasan yang sebelumnya telah ditetapkan, misal batas maksimum penarikan ATM adalah Rp 2.500.000,-

(vi)  Valid code check,
Pengujian ini disebut juga dengan dial back methode atau existence test dimana keabsahan kode ini dimaksudkan untuk menguji apakah suatu transaksi masukan memiliki kode yang sama dengan yang ada di dalam daftar komputer yang bersangkutan.

(vii)  Range test,
Pengendalian ini serupa dengan limit check hanya saja untuk menguji apakah suatu field berisi batasan nilai tertentu, misalnya 100 hingga 500.

(viii)  Sequence check,
Pengendalian ini menguji urut-urutan suatu field masukan tertentu.

(ix)  Check-digit verification,
Pengendalian ini dilakukan dnegan menghitung suatu angka tertentu untuk memastikan bahawa nilai yang sebenarnya tidak diubah.


(c)  Pengendalian Transmisi Data

Bertujuan untuk mencegah agar data yang akan diproses tersebut tidak hilang, tidak ditambah, atau tidak diubah.  Pengendalian transmisi data termasuk dalam pengendalian detektif.

Teknik pengendalian transmisi data  :

(i)  Batches logging and tracking,
Teknik pencatatan dan pentrasiran batch ini mencakup penghitungan batch control totals, penggunaan nomor urut batch, nomor lembar transmisi serta pencatatan arus transaksi dan/atau batch.

(ii)  Program-program aplikasi,
Pengendalian ini digunakan untuk melakukan verifikasi terhadap batch control totals dan run-to-run control total.  Total run-to-run adalah control totals dari penyelesaian suatu pengolahan (pemrosesan) yang akan digunakan sebagai total pengendalian untuk pemrosesan berikutnya.  Contoh, apabila tidak ada pengeluaran maka saldo awal persediaan ditambah dengan pembelian harus sama dengan saldo akhirnya.

(iii)  Teknik-teknik verifikasi dalam transmisi on-line,

  • Echo-check (closed loop verification), mengirimkan data kembali pada pengirimnya untuk dibandingkan dengan data asal (aslinya).
  • Redudancy check (matching check), meminta pengirimnya untuk memasukkan sebagian dari data selain dari data yang telah ditransmisikan.
  • Completeness test, pegujian kelengkapan data terhadap setiap transaksi dengan tujuan untuk membuktikan bahwa semua data yang diperlukan telah dimasukkan.

(d)  Pengendalian Konversi Data

Konversi data adalah proses mengubah data dari sumber asalnya ke dalam bentuk yang dapat dibaca oleh mesin (machine readable form), misalnya dalam bentuk punched cards, pita magnetis, disk, ataupun bentuk-bentuk lainnya.

Teknik pengendalian konversi data  :

(i)  Visual verification,
Terminal komputer dapat pula dilengkapi dengan fasilitas umpan balik yang secara otomatis akan menunjukkan suatu tanda yang dapat digunakan sebagai pengujian visual oleh pemakainya.

(ii)  Check digit,
Berfungsi untuk memeriksa atau menguji validitas angka.  Apabila angka tersebut tidak sesuai dnegan angka asalnya, maka nomor angka akun yang diproses tersebut akan dimunculkan sebagai hal yang salah.  Contoh  :  ISBN dan nomor akun ATM nasabah.

(iii)  Batch control total,
Bukti-bukti asal dikelompok-kelompokkan di departemen pemakan dan control group mencatat batch dan batch control pada batch input control sheet.  Setelah diproses control group membandingkan total batch keluaran dengan total batch semula, menyelidiki, dan menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang timbul.  Keluaran yang diterima oleh departemen pemakai dari control group kemudian dibandingkan dengan total batch masukan.

Untuk mempermudah dan memperjelas tanggung jawab orang yang berwenang melakukan operasi koversi data, maka manajemen harus menyediakan instruksi tertulis sebagai suatu standar kerja.

(ivHash totals.
Hash totals dibuat dalam field yang bukan kuantitas seperti misalnya jumlah dari nomor akun pelanggan atau jumlah nomor identifikasi pegawai.  Bagi manusia penjumlahan ini tidak ada artinya, tetapi tidak demikian dengan komputer.  Apabila penjumlahan tersebut tidak sesuai dengan jumlah yang seharusnya, maka akan diketahui pemasukan nomor data yang salah.

(e)  Pengendalian Penanganan Kesalahan

Transaksi-transaksi yang salah juga harus dikendalikan sehingga transaksi-transaksi semacam itu tidak diproses.  Seluruh koreksi atas kesalahan yang terjadi yang dimasukkan ke dalam sistem harus mengikuti urut-urutan yang sama dengan prosedur-prosedur sebelum adanya kesalahan, yaitu otorisasi, verifikasi, dan sebagainya.

Pengendalian penanganan kesalahan mencakup  :

  • Identifikasi atas sebab-sebab penolakan serta penelaahan terhadap sebab-sebab penolakan tersebut,
  • Penelaahan dan persetujuan perbaikannya,
  • Pemrosesan kembali (re-entry) sesegera mungkin ke dalam sistem.

Yang termasuk dalam pengendalian ini antara lain :

(i)  Error log,
Dalam kaitannya dengan pengendalian penanganan kesalahan, fungsi control group adalah membuat pencatatan mengenai kesalahan yang terjadi (error log) guna mencatat semua data masukan yang ditolak, menyelidiki, dan memperbaiki kesalahan sesegera mungkin.  Error log harus ditelaah secara reguler.

(ii)  Suspended file,
Teknik fail yang ditunda pelaksanaannya ini digunakan untuk memberikan jaminan bahwa kesalahan yang terjaid telah dikoreksi dan diserahkan kembali ke bagian PDE untuk diproses ulang.  Kesalahan dalam fail yang ditunda pelaksanaannya tersebut akan tetap di dalam fail sampai diperbaiki dan ditelaah secara reguler.

(iii)  Laporan kesalahan,
Tujuannya untuk mengidentifikasi mengenai catatan yang ada, kesalahan dalam data, serta sebab-sebabnya.  Laporan kesalahan ini biasanya dikirimkan kepada departemen pemakai dengan maksud agar kesalahan tersebut diperbaiki, kemudian data yang semua salah dikirimkan kebali kepada departemen EDP untuk diproses.

.

B.  PENGENDALIAN PENGOLAHAN

Processing controls dilaksanakan setelah data memasuki sistem dan program-program aplikasi mengolah data tersebut.

1.  Tujuan

Menurut IAI, pengendalian atas pengolahan dimaksudkan untuk memperoleh jaminan yang memadai bahwa  :

  • Transaksi diolah sebagaimana mestinya oleh komputer,
  • Transaksi tidak hilang, ditambah, digandakan, atau diubah tidak semestinya,
  • Transaksi yang keliru ditolak, dikoreksi, dan jika perlu, dimasukkan kembali secara tepat waktu.

Sedangkan pengendalian pengolahan pada sistem yang on-line dimaksudkan untuk memperoleh jaminan yang memadai bahwa  :

  • Hasil perhitungan telah diprogram dengan benar,
  • Logika yang digunakan dalam proses pengolahan adalah benar,
  • File dan record yang digunakan dalam proses pengolahan adalah benar,
  • Operator telah memasukkan data ke komputer console yang semestinya,
  • Tabel yang digunakan selama proses pengolahan adalah benar,
  • Selama proses pengolahan telah digunakan standar operasi (default) yang semestinya,
  • Data yang tidak sah tidak digunakan dalam proses pengolahan,
  • Proses pengolahan tidak menggunakan program dengan versi yang salah,
  • Hasil penghitungan yang dilakukan secara otomatis oleh program adalah sesuai dengan kebijakan manajemen satuan usaha,
  • Data masukan yang diolah adlah data yang berotorisasi.

Dengan adanya pengendalian pengolahan maka pemrosesan data di dalam sistem akan lengkap, akurat, dan tidak mengandung kesalahan-kesalahan seperti  :

  • Transaksi gagal diproses , baik tidak seluruhnya diproses maupun memproses tidak sebagaimana mestinya,
  • Transaksi yang diproses salah atau yang bukan seharusnya diproses,
  • Transaksi yang diproses tidak logis atau tidak wajar,
  • Transaksi yang diproses hilang atau terdistorsi.

2.  Teknik Processing Controls

(a)  Mempertahankan Keakuratan Data

(i)  Batch control totals,
Teknik ini dimaksudkan untuk mendeteksi adanya data yang hialang atau data yang tidak terproses.  Jenis pengendalian ini meliputi batch totals, hash totals, dan record count.

Record count menghitung jumlah transaksi yang diproses.  Hasilnya digunakan untuk membandingkan dengan jumlah transaksi yang sebenarnya.  Misal, seorang pembeli dapat membandingkan antara jumlah barang yang dibelinya dnegan angka yang tercantum dalam tanda terima dari kas register tersebut.

(ii)  Run-to-run control totals,
Seperti halnya dalam pengendalian transmisi data, teknik pengendalian ini digunakan untuk mencocokan jumlah transaksi yang diproses dengan jumlah masukan atau keluaran transaksi.

(iii)  Transaction log,
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, transaction log mencatat semua informasu transaksi seperti fungsi, operator, waktu, identifikasi terminal, dan nomor pengendalian transaksi.  Transaction log ini dapat pula berfungsi sebagai audit trail karena ia mencatat segala aktivitas yang terjadi dengan komputer tersebut.

(iv)  Fullback procedures,
Befungsi untuk mengumpulkan dan mengendalikan transaksi yang mestinya telah diproses apabila sistem tersebut beroperasi.  Artinya, ketika sistem tidak beroperasi maka transaksi-transaksi tersebut dikumpulkan dan dikendalikan sehingga pada saat sistem beroperasi kembali maka transaksi-transaksi tersebut tidak tercecer atau hilang.

(v)  Restart procedures,
Prosedur ini dimaksudkan untuk memulai pemakai kembali sistem (restart) setelah terjadinya pemberhentian aktivitas (shutdown).

((vi)  Recovery procedures,
Prosedur ini dimaksudkan untuk mempersiapkan apabila terjadi bencana.

(b)  Programmed Limit and Reasonableness Test

Dalam kaitannya dengan pengendalian menurut tujuannya, maka programmed limit and reasonableness tests termasuk dalam jenis pengendalian detektif.  Teknik-teknik yang ada antara lain  :

(i)  Check Digit,

(ii)  Sign Check,

(iii) Numerin and alphabetic check,

(iv)  Logic check,

(v)  Limit and reasonableness checks,

(vi)  Zero balancing check,
Maksud pengujian ini adalah untuk emmbuktikan bahwa dua jumlah dalam pembukuan yang dilakukan mempunyai angka yang sama sehingga apabila kedua jumlah tersebut dikurangkan akan menghasilkan selisih sebesar nol.  Misal, debet VS kredit atau jumlah rincian VS jumlah yang dirinci.

(vii)  Crossfooting check,
Tujuan dari penjumlah ke samping (crossfooting) adalah untuk mengetahui apakah penjumlah ke bawahnya (footing) telah benar.

(viii)  Overflow check,
Pengendalian ini digunakan untuk menentukan apakah besarnya hasil perhitungan pemrosesan melebihi besarnya register yang dialokasikan untuk menyimpannya.

(c)  File Controls

Dalam kaitannya dengan pengendalian menurut tujuannya, maka file controls termasuk dalam jenis pengendalian detektif.

Tujuan  :

Fail-fail yang ada harus dikendalikan selain untuk tujuan pencegahan dari pemakaian oleh orang yang tidak mempunyai otorisasi juga untuk tujuan-tujuan pengendalian atas pengolahan sebagai berikut  :

  • Untuk mencegah pemrosesan terhadap fail yang tidak sesuai sehingga diperoleh kepastian (jaminan) bahwa apabila fail yang hendak diproses adalah fail piutang dagang maka hanya fail itu yang akan diproses, bukan fail hutang dagang,
  • Untuk mendeteksi kesalahan dalam manupulasi fail,
  • Untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan yang disebabkan atau dibuat oleh operator.

Teknik-teknik File Controls  :

(i)  Penggunaan label eksternal,
Label eksternal biasanya digunakan untuk terhadap pita, disk, dan fail-fail kartu seperti halnya dengan pemberian nomor dan nama (indeks) pada buku-buku perpustakaan.  Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa label eksternal seharusnya tidak secara jelas mencantumkan keterangan nama fail tersebut sehingga apabila seseorang ingin mengambil fail tersebut maka ia tidak akan “terlalu mudah” untuk mengetahui bahwa suatu gal berisi pita video tertentu.

(ii)  Penggunaan label internal,
Selain label eksternal, fail juga diberi label internal yang hanya dapat dibaca dengan bantuan komputer.  Untuk itu diperlukan adanya program aplikasi untuk menguji header dan trailer labe internal.

(iii)  Teknik lock-out,
Dalam sistem on-line sering digunakan teknik ini yang bertujuan untuk mencegah agar tidak terjadi pemutakhiran data secara simultan oleh beberapa pemakai secara sekaligus.  Artinya, apabila seseorang tengah memutakhirkan data maka meskipun data yang digunakan adalah on-line akan tetapi pemakai lainnya tidak dapat memutakhirkan data yang sama.

(iv)  Teknik rekonsiliasi,
Teknik ini mengaitkan dau menghubungkan jumlah record sebelum perubahan, setalah perubahan, dan jumlah perubahan itu sendiri.  Laporan yang isi dari fail induk sebelum dilakukan pengubahan (before image) dan sesudah dilakukan pengubahan (after image) perlu dibuat dan harus ditelaah oleh supervisor.

.

C.  PENGENDALIAN ATAS KELUARAN

Pengendalian atas keluaran (output controls) dimaksudkan untuk menetapkan bahwa data yang diproses adalah lengkap, akurat, dan didistribusikan kepada pihak-pihak yang berhak serta tepat waktu.

1.  Tujuan

Menurut IAI, pengendalian ini dimaksudkan untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa  :

  • Hasil pengolahan adalah cermat,
  • Akses terhadap keluaran dibatasi hanya bagi karyawan yang telah mendapat otorisasi,
  • Keluaran disediakan secara tepat waktu bagi karyawan yang telah mendapat otorisasi semestinya.

Sementaraitu, output controls pada sistem on-line dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa  :

  • Keluaran yang diterima oleh satuan usaha adalah tepat dan lengkap,
  • Keluaran yang diterima oleh satuan usaha diklasifikasikan dengan benar,
  • Keluaran didistribusikan kepada pegawai yang mempunya otorisasi.

2.  Teknik Ouput Controls

(i)  Rekonsiliasi keluaran dnegan masukan dan pengolahan,
Akan diperoleh jaminan bahwa masukan telah diproses dengan benar sehingga hasilnya juga benar.  Rekonsiliasi harus dilakukan oleh control group dan departemen pemakan dengan menggunakan laporan rekonsiliasi yang telah terprogram ataupun secara manual dengan car amembandingkan jumlah di dalam keluaran dengan jumlah pengendalian masukan (input control totals).  Disamping itu, transaction log secara reguler juga harus dibandingkan dengan catatan transaksi pada setiap alat keluaran.

(ii)  Penelaahan dan pengujian hasil-hasil pemrosesan,

  • Penelaahan, penyelidikan, dan pengendalian terhadap laporan-laporan tentang ketidakberesan yang terjadi (exception reports) yang biasanya dilakukan oleh control group,
  • Pembandingan keluaran dengan dokumen asalnya,
  • Penelaahan secara hati-hati terhadap daftar revisi fail-fail induk yang biasanya mencakup pencarian terhadap pos-pos yang tidak biasa atau tidak normal.

(iii)  Pendistribusian keluaran,

  • Keluaran hanya didistribusikan kepada para pemakai yang memperoleh otorisasi,
  • Pendistribusian tersebut harus dilakukan secara tepat waktu,
  • Hanya keluaran yang diperlukan saja yang didistribusikan.

Selain itu, cover yang menunjukkan keluaran tersebut (distribution register atau report distributn logs) sebaiknya menyebutkan identifikasi pemakainya guna menghindari pemakaian laporan oleh pihak-pihak yang tidak mempunyai otorisasi.  Tanggal penerimaan dan nama penerima hendaknya dicatat secara reguler setiap keluaran didistribusikan.

(iv)  Record Retention,

  • Menjaga jangka waktu pencatatan tertentu untuk menjaga keamanan keluaran,
  • Menghindari rekonstruksi yang tidak perlu terhadap fail,
  • Mengurangi biaya perlengkapan (supplies) dan bahan bagi departemen EDP,
  • untuk mengendalikan keluaran-keluaran yang sudah tidak diperlukan lagi (laporan yang sudah tidak dipakai lagi harus dihancurkan).  (blog.akusukamenulis)

Sumber  :::
Basalamah, Anies S.  AUDITING PDE DENGAN STANDAR IAI.  Depok  :  Usaha Kami.  2010

Entry filed under: audit. Tags: , , , , .

Activity Based Costing (ABC) Seni Kepemimpinan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


The Shining Moon

Categories

Quotes of The Day

Visitors

  • 124,489 People

%d bloggers like this: