Standard Costing and Analysis Varians

August 14, 2011 at 5:54 am 1 comment

 

 

Secara sederhana, standar biaya didefinisikan sebagai “biaya yang telah ditentukan sebelumnya untuk memproduksi satu unit atau sejumlah produk dalam periode tertentu”.  Standar adalah harga, biaya, atau kuantitas yang ditetapkan dengan cermat yang dinyatakan atas basis per unit.  Suatu standar sebaiknya dianggap sebagai suatu “norma” untuk input produksi, seperti unit bahan baku, jam tenaga kerja, dan persentase kapasitas yang digunakan.

Penetuan standar biaya lebih berupa seni dari pada sebuah science.  Adapun pihak-pihak yang banyak terlibat di lingkungan manufaktur meliputi akuntan, manajer pembelian, insinyur di bagian produksi, supervisor produksi, manajer lini, dan pekerja.

Perhitungan standar biaya utamanya ditemukan dalam ABC costing dan job order costing untuk unit-unit homogen per batch pesanan.  Standar biaya biasanya lebih dapat beradaptasi dalam lingkungan  :
#  teknologi yang stabil,
#  produk yang homogen.

A.  Komponen Standar Biaya

Standar biaya memiliki dua komponen yaitu :
1.  Standar Fisik atau Standar Input
, yakni penetapan secara cermat kuantitas input yang dibutuhkan untuk satu unit output.
2.  Standar Harga
, yakni harga yang ditetapkan dengan cermat yang diharapkan dibayar perusahaan guna mendapatkan satu unit input.

B.  Sumber Informasi Standar Input dan Standar Harga

Terdapat beberapa sumber informasi yang dapat digunakan untuk mendapatkan standar input dan standar harga.  Tiga sumber informasi utama adalah  :

1.   Data input aktual dari periode yang lalu,
Kebanyakan perusahaan memiliki data masa lalu mengenai harga input aktual dan kuantitas input aktual.  Harga dan kuantitas masa lalu ini dapat dijadikan sebagai harga dan kuantitas yang dianggarkan pada “anggaran fleksibel”.

Keunggulan  :
#  kuantitas dan harga riil (bukan hipotesis),
#  dapat dijadikan tolok ukur untuk perbaikan yang kontinyu,
#  murah.

Keterbatasan  :

#  mencakup proses produksi yang inefisien (pemborosan bahan langsung),
#  data tidak memasukan perubahan diperkirakan selama periode anggaran.

2.   Data dari perusahaan lain yang memiliki proses yang sama,

Keunggulan  :
#  angka anggaran mencerminkan tolok ukur kompetitif dari perusahaan lain.

Keterbatasan  :
#  data harga dan kuantitas input yang sebanding dari perusahaan lain mungkin tidak tersedia.

3.   Standar yang dikembangkan secara internal,
Organisasi dapat menyusun standar biaya dengan melakukan studi rekayasa untuk memperoleh informasi yang terinci tentang langkah-langkah yang diperlukan untuk menghasilkan sesuatu.

Keterbatasan  :
#  Pengembangan standar menggunakan studi rekayasa yang terinci untuk indirect cost (waktu yang dihabiskan oleh staf pendukung), cukup sulit untuk output yang berbeda.  Walaupun akuntan manajemen dapat mengembangkan perhitungan waktu standar berdasarkan wawancara guna mengidentifikasi waktu yang dihabiskan oleh staf pendukung pada berbagai aktifitas, serta jumlah waktu dari setiap aktivitas yang diperlukan oleh produk yang berbeda.

C.  Kegunaan Standar Biaya

1.  Menetapkan anggaran,
Anggaran untuk volume dan bauran produk apapun dapat dibuat dengan andal dan cepat karena standar didasarkan pada analisis dari proses produksi.  Waktu yang dibutuhkan untuk membuat anggaran berkurang karena kebutuhan produksi didokumentasikan dalam standar untuk masing-masing produk.

2.  Mengendalikan biaya : memotivasi karyawan dan mengukur efisiensi operasi,
Standar menyediakan cita-cita kinerja bagi karyawan, sekaligus menjadi dasar untuk mengevaluasi hasil aktual.  Ketika hasil tersedia dalam bentuk laporan varians standar biaya, maka manajer eksekutif dan operasi menjadi lebih sadar akan biaya.  Meskipun demikian, ketergantungan yang berlebihan pada standar sebagai motivator dan dasar evaluasi kinerja dapat menyebabkan timbulnya perilaku disfungsional.

3.  Menyederhanakan perhitungan biaya dan mempercepat laporan biaya,
Ketika proses produksi semakin terstandarisasi maka pekerjaan klerikal semakin menurun.  Sistem standar biaya yang lengkap disertai dengan standarisasi produksi (kuantitas produksi standar, operasi tenaga kerja tertentu, permintaan bahan baku, kartu absen tenaga kerja, dan jadwal operasi).

4.  Membebankan biaya ke persediaan bahan baku, WIP, dan FG,
Dengan memasukan standar biaya dalam catatan akuntansi akan meningkatkan efisiensi dan ketepatan dalam pekerjaan klerikal.  Arsip biaya standar yang lengkap, dirinci per komponen dan operasi, menyederhanakan pembebanan biaya ke persediaan bahan baku, WIP, dan FG.  Biaya persediaan ditentukan dengan mengalikan kuantitas dari setiap produk di persediaan dengan biaya standar per unit dan menambahkan total biaya dari setiap produk.  Penggunaan biaya standar juga dapat menstabilkan biaya produk yang dilaporkan meskipun ada fluktuasi jangka pendek dalam harga input dan kapasitas yang digunakan.

5.      Menetapkan tawaran kontrak dan harga jual,
Perhitungan biaya yang akan terjadi untuk suatu kontrak akan lebih mudah dan lebih andal menggunakan biaya standar, terutama untuk suatu produk “unik” yang akan diproduksi.  Standar biaya juga berguna dalam menetapkan harga jual.  Ketika harga pasar dari suatu produk tidak dapat diobservasi, seperti kasus produk baru atau produk yang spesifik, maka biasanya biaya produk digunakan sebagai titik awal dalam menentukan harga jual.

D.  Jenis Standar Biaya

Terdapat tiga jenis standar yang dapat digunakan organisasi dalam sistem kalkulasi standar biaya, yaitu :

1.  Standar aktual, mencerminkan tingkat aktifitas dan efisiensi yang diperkirakan.  Standar ini merupakan estimasi yang paling dekat dengan hasil aktual.

2.      Standar normal, mencerminkan tingkat aktivitas dan efisiensi normal.  Standar ini merupakan hasil yang menantang namun dapat dicapai.

3.      Standar teoritis, mencerminkan tingkat aktivitas dan efisiensi maksimum.  Standar ini merupakan cita-cita yang dituju, bukan kinerja yang dapat dicapai sekarang.

E.  Varians

Varians adalah perbedaan antara jumlah yang didasarkan pada hasil aktual dan jumlah yang dianggarkan.  Jumlah yang dianggarkan merupakan acuan untuk melakukan perbandingan.

Setiap varians merupakan suatu sinyal yang sebaiknya diidentifikasi dan dianalisis.  Suatu varians dapat disebabkan oleh kejadian acak yang tidak diharapkan terulang kembali, masalah sistematis yang dapat diperbaiki, atau standar yang tidak tepat.  Misalnya, jika proses manufaktur berubah, maka standar fisik juga mungkin berubah.

Ada dua jenis varians, yakni  :
1.  Varians yang menguntungkan (favorable), adalah varians yang memiliki pengaruh meningkatkan laba operasi relatif terhadap jumlah yang dianggarkan.
2.  Varians yang tidak menguntungkan (unfavorable), adalah varians yang memiliki pengaruh menurunkan laba operasi relatif terhadap jumlah yang dianggarkan.

Dalam beberapa kasus, varians di departemen-departemen yang berbeda saling terkait.  Penentuan hubungan semacam itu penting ketika varians yang menguntungkan di suatu area ditiadakan oleh varians tidak menguntungkan di area lain yang terkait.

Charles T. Hongren mengikhtisarkan varians dalam tiga level, yakni  :

1.  Level 1 (Varians Anggaran Statis),
Varians anggaran statis adalah perbedaan antara hasil aktual dan jumlah yang dianggarkan dalam anggaran statis (anggaran induk yang didasarkan pada tingkat output yang direncanakan pada awal periode).  Varians ini disebut statis karena anggaran untuk periode tersebut dibuat dengan satu tingkat output yang direncanakan.

2.  Level 2 (Varians Anggaran Fleksibel dan Varians Volume Penjualan),
Level 2 menunjukan analisis varians berdasarkan anggaran fleksibel (anggaran yang menghitung pendapatan dan biaya yang dianggarkan berdasarkan output aktual pada periode anggaran).

Level 2 membagi level 1 (varians anggaran statis) ke dalam dua bagian, yaitu  :

a.  Varians Volume Penjualan, yakni itu perbedaan antara jumlah anggaran fleksibel dengan anggaran statis yang berkaitan dengan kuantitas barang yang dijual.

b.  Varians anggaran fleksibel, yakni perbedaan antara hasil aktual dan jumlah anggaran fleksibel yang berkaitan berdasarkan tingkat output aktual pada periode anggaran.

3.  Level 3 (Varians Harga dan Varians Efisiensi),

Level 3 merinci varian anggaran fleksibel pada level 2 menjadi dua bagian, yaitu  :

a.  Varians harga, yakni perbedaan antara harga aktual dengan harga yang dianggarkan dikali dengan kuantitas input aktual.  Varians harga kadang-kadang disebut juga varians input atau varians tingkat upah, terutama bila mengacu pada varians harga untuk tenaga kerja langsung.

b.  Varians efisiensi adalah perbedaan antara kuantitas input aktual yang digunakan dan kuantitas input yang dianggarkan untuk membuat output aktual, dikali dengan harga yang dianggarkan.  Varians efisiensi kadang-kadang disebut juga varians penggunaan.

F.  Penentuan Standar Biaya

Penentuan standar biaya ditentukan oleh tiga komponen biaya utama dalam perusahaan manufaktur, yakni  :
1.  Penentuan standar biaya bahan baku,
2.  Penentuan standar biaya tenaga kerja langsung,
3.  Penentuan standar biaya overhead.

Penentuan Standar Biaya Bahan Baku,
Prosedur penyusunan standar biaya bahan baku perusahaan  :
1.  Perusahaan mengadakan pertemuan dengan beberapa calon pemasok yang menawarkan barangnya untuk dibeli.
2.  Direktur pusat, manajer keuangan, manajer pembelian, dan manajer produksi akan memilih pemasok untuk menilai apakah kualitas barang dari pemasok sesuai dengan harga barang yang ditawarkan.   Hal ini dilakukan agar biaya standar bahan baku yang telah disusun menjadi hasil kesepakatan bersama sehingga dalam pelaksanaannya biaya standar tersebut didukung oleh seluruh bagian yang ada dalam perusahaan.
3.  Setelah pemasok terpilih maka bersama-sama akan membicarakan mengenai kontrak harga untuk jangka waktu tertentu.  Harga yang telah disepakati inilah yang menjadi “standar harga bahan baku” yang ditetapkan oleh perusahaan.  Standar harga bahan baku yang ditetapkan oleh perusahaan berdasarkan harga pasar yang berlaku saat ini.

Contoh  :
Untuk membuat 1 unit produk barang XYZ, dibutuhkan 5 kg bahan baku dengan harga kontrak sebesar Rp1.000,-.  Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa “standar harga bahan baku” adalah  :

5 kg bahan baku x Rp 1.000,- = Rp 5.000,-

Penentuan Standar Biaya Tenaga Kerja Langsung,
Dalam praktiknya, manajemen menetapkan standar tarif upah sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR) dimana kegiatan operasi perusahaan berjalan.  Terdapat dua komponen biaya yang menentukan standar biaya tenaga kerja langsung, yakni  :
#  standar jam kerja,
#  standar tarif upah tenaga kerja langsung.

Sedangkan dalam hal penentuan standar jam kerja terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perhitungan, yakni  :
1.  kapasitas normal perusahaan dalam satu tahun,
2.  jumlah hari kerja dalam satu bulan,
3.  efektivitas standar jam kerja dalam satu hari,
4.  total pekerja dalam satu hari, dan
5.  jumlah produksi dalam satu jamnya.

Contoh  :
Jika kapasitas normal perusahaan XYZ dalam satu tahun  :
*  1.000.000 unit produksi;
*  21 hari kerja dalam satu bulan adalah 21 hari;
*  7 jam kerja efektif per hari; dan
*  100 pekerja aktif dalam satu hari.
Maka jam kerja efektif perusahaan dalam 1 tahun  :

100 pekerja x 7jam/hari x 21 hari kerja x 12 bulan = 176.400 jam

Diketahui UMR yang ditetapkan oleh perusahaan sebesar Rp1.500.000,- per bulan.  Maka “standar biaya tenaga kerja langsung” yang dikeluarkan perusahaan dalam satu tahun untuk memproduksi 1.000.000 unit adalah  :

100 pekerja x Rp 1.500.000,- x 12 bulan = Rp 1.800.000,-

Oleh karena itu maka akan didapatkan “standar tarif upah” yang digunakan dalam kondisi kapasitas normal perusahaan adalah  :

Rp 1.800.000,- : 176.400 jam = Rp 10.204,- per jam

Jika dalam 1 jam setiap orang dapat menciptakan 6 buah produ berarti 1 unit produk akan memakan waktu sebesar 1/6 jam.  Maka biaya standar untuk satu unit produksi adalah  :

1/6 x Rp 10.204,- per jam = Rp 1.694,- per buah

Penentuan Standar Biaya Overhead

Penetapan standar biaya overhead didasarkan atas anggaran fleksibel yang ditetapkan oleh perusahaan.  Biaya overhead ditetapkan oleh bagian keuangan bekerjasama dengan bagian produksi dan bagian akuntansi.  Dasar pembebanan terhadap biaya overhead dapat dibebankan pada jumlah jam tenaga kerja langsung yang berhubungan terhadap kegiatan operasi perusahaan.

Adapun cara penghitungan tarif biaya standar overhead adalah :

Jumlah biaya overhead  :  jumlah jam kerja langsung

Setelah didapatkan tarif standar dari pembagian tersebut, maka biaya standar untuk membuat satu unit produk adalah jumlah jam kerja untuk satu unit produksi dikalikan tariff standar yang telah didapatkan.  Dari perhitungan biaya standar tersebut maka akan didapatkan harga pokok standar untuk setiap unit produksi adalah :

Biaya standar bahan baku Rp xxxxxx,-  
Biaya standar tenaga kerja langsung Rp xxxxxx,-  
Biaya standar overhead Rp xxxxxx,- +
Harga pokok standar produk Rp xxxxxx,-  

 

G.  Implementasi Standar Biaya

Keberhasilan dari sistem standar biaya bergantung pada keandalan, ketepatan, dan penerimaan terhadap standar tersebut.  Dalam beberapa kasus, standar ditetapkan pada tingkat rata-rata hasil aktual dari periode-periode sebelumnya.  Di kasus-kasus lainnya, standar ditetapkan oleh seorang ahli berdasarkan studi atas komponen produk, operasi produksi, sampel, dan partisipasi individu-individu yang kinerjanya diukur dengan standar.

Dalam menetapkan standar, perilaku manusia juga harus diperhatikan.  Karyawan akan bereaksi negatif jika mereka merasa terancam oleh standar yang ditentukan.  Jika mereka ikut berpartisipasi dalam menetapkan standar dan memahami bagaimana standar itu ditentukan, maka mereka akan lebih dapat menerima.  Dengan pengetahuan dan pengalaman praktis mereka, maka mereka dapat memberikan kontribusi dalam menetapkan dan memperbaiki standar.  Idealnya, karyawan menerima standar tersebut sebagai cita-cita pribadi mereka.

Secara historis, banyak akuntan percaya bahwa standar yang paling efektif adalah standar yang ditetapkan oleh insinyur industrial dengan partisipasi dengan partisipasi manajer operasi yang akan dievaluasi.  Karena kebutuhan sekarang untuk perbaikan terus menerus, maka pendekatan penetapan standar ini telah dipertanyakan.  Sebagian akuntan berargumentasi bahwa standar semacam ini didasarkan pada tingkat produktivitas yang telah diketahui dan gagal untuk menyediakan insentif yang mencukupi bagi perbaikan.

Salah satu cara untuk mengatasi hal ini adalah memperketat standar secara periodik guna mencerminkan tingkat perbaikan yang diinginkan.  Masalah dengan pendekatan ini adalah dalam menentukan berapa banyak perbaikan yang akan dimasukan setiap periodenya.  Pendekatan alternatif adalah dengan mendasarkan standar pada kinerja aktual yang paling akhir dan kemudian memperkirakan varians yang menguntungkan (favorable) sebagai kinerja yang dapat diterima.  Masalah dengan pendekatan ini adalah dalam menentukan jumlah varians menguntungkan yang dapat diterima.

Sistem ini juga dapat mendorong dilakukannya permainan oleh orang-orang yang dievaluasi.  Seorang manajer yang dapat melakukan perbaikan secara subtansial di suatu periode mungkin saja memutuskan untuk membuat perbaikan-perbaikan kecil di setiap periodenya selama beberapa periode guna menjamin serangkaian evaluasi yang menguntungkan.

Pendekatan ketiga dalam menetapkan standar adalah untuk mengidentifikasikan biaya standar yang akan didukung oleh pasar.  Dalam pendekatan ini, harga jual untuk produk diestimasikan pertama kali, kemudian biaya pemasaran dan laba yang dapat diterima dikurangkan dari harga jual untuk memperoleh target biaya.  Pendekatan ini memiliki keuntungan dengan menyediakan suatu insentif untuk memproduksi produk yang akan kompetitif di pasar, tetapi standar yang dihasilkan mungkin saja tidak tercapai.

Standar biasanya dihitung untuk periode 6-12 bulan, meskipun periode yang lebih panjang kadang kala digunakan. Standar sebaiknya diubah ketika kondisi yang mendasarinya berubah atau ketika penggunaan standar yang lama tidak lagi mencapai tujuan.  Tetapi, perubahan standar fisik terlalu sering akan mengurangi efektifitasnya, meningkatkan pekerjaan klerikal, dan menimbulkan kebingungan serta ketidakpastian.  Standar fisik sebaiknya dipantau secara terus menerus dan ditinjau ulang secara berkala guna menentukan kesesuaiannya.

Kejadian dan bukannya waktu, yang menjadi faktor yang menentukan kapan standar sebaiknya direvisi.  Kejadian-kejadian tersebut dapat diklasifikasikan sebagai internal dan eksternal.  Kejadian internal, seperti kemajuan teknologi, revisi desain, perubahan metode, perubahan tarif upah pekerja, dan perubahan dalam fasilitas fisik, dalam batas-batas tertentu dapat dikendalikan oleh manajemen.  Sebaliknya kejadian eksternal, seperti perubahan harga (termasuk dampak inflasi), tren pasar, permintaan tertentu dari pelanggan, dan perubahan dalam situasi persiangan, dan pada umumnya tidak dapat dikendalikan oleh manajemen.

Standar biaya lebih sering memerlukan perubahan ketika kejadian eksternal yang mengendalikan terjadi.  Organisasi yang menghadapi perubahan teknologi yang sangat cepat, biasanya tidak menggunakan standar tradisional, melainkan menggunakan biaya aktual paling terakhir, atau rata-rata bergerak dari biaya aktual di masa lalu.  (blog.kampuskeuangan)

Sumber  :::
Charles T. Hongren, Shrikand M. Datar, George Foster. Akuntansi Biaya dengan Penekanan Manajerial. Jakarta : Penerbit Erlangga, 2008.

Entry filed under: cost accounting. Tags: , , , , .

Selayang Pandang tentang CoBIT 4.1 Relevant Cost

1 Comment Add your own

  • 1. franzkp  |  August 15, 2011 at 10:16 pm

    mantap, ijin baca gan

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


The Shining Moon

Categories

Quotes of The Day

Visitors

  • 124,489 People

%d bloggers like this: