Theory of Constraint

October 15, 2011 at 3:58 pm Leave a comment

Semua perusahaan di dunia berusaha keras membuat produk atau jasa berkualitas tinggi.  Namun demikian, proses mencapai suatu produk berkualitas merupakan pekerjaan yang berat.  Terlebih ketika suatu produk terdiri atas berbagai suku cadang dan diproses melalui berbagai tahapan mesin.  Dengan suku cadang dan mesin yang beraneka ragam itulah ketergantungan antaroperasi timbul.  Contoh kendala (constraint) yang timbul dalam proses produksi adalah :
a)  beberapa operasi tidak dapat dimulai hingga suku cadang dari operasi sebelumnya tersedia, dan
b)  keterbatasan kapasitas suatu mesin tertentu yang menjadi bottleneck operasi produksi.

Dalam mengelola bottleneck inilah muncul Teori Kendala atau Theory of Constraint (TOC).  Teori ini menguraikan metode untuk memaksimalkan laba operasi ketika berhadapan dengan sejumlah operasi bottleneck dan sejumlah operasi nonbottleneck.  TOC mempertimbangkan horizon waktu jangka pendek dan mengasumsikan bahwa operation cost merupakan fixed cost.  Tujuan dari TOC adalah untuk meningkatkan Throughput Contribution sembari menurunkan investment dan operation cost.

TOC sendiri mendefinisikan tiga pengukuran, yakni  :
1)  Throughput Contribution  =  Revenue – COGS (DM)
2)  Investment  =  Total of Material Cost in Inventory (DM, WIP, FG, R&D, Equipment, Building)
3)  Operation Cost  =  All operation cost (except DM) for Throughput Contribution (including Salary, Wages, Rent, Utility, Depreciation, etc)

LANGKAH-LANGKAH TOC

[Langkah 1]
Pengakuan bahwa operasi bottleneck menentukan throughput contribution dari sistem secara keseluruhan.

[Langkah 2]
Pengidentifikasian operasi bottleneck dengan mengidentifikasi operasi yang memiliki kuantitas persediaan yang besar yang menunggu untuk dikerjakan.

[Langkah 3]
Operasi bottleneck dipertahankan agar tetap sibuk dan semua operasi nonbottleneck dinomorduakan, sehingga kebutuhan operasi bottleneck menentukan skedul produksi dari operasi nonbottleneck.

Perusahaan dalam memaksimalkan laba operasi harus memaksimalkan pula throughput contribution dari sumber daya yang terbatas (bottleneck), sehingga mesin yang bottleneck pun harus selalu tetap berjalan.  Mesin bottleneck tidak boleh menunggu pekerjaan.  Untuk mencapai tujuan ini, perusahaan sering kali mempertahankan keadaan dimana persediaan dibiarkan menunggu di mesin yang bottleneck.  Padahal, mesin bottleneck ini menetapkan kecepatan bagi semua mesin nonbottleneck.

Kasus yang sering terjadi adalah pembuat skedul produksi justru meminta para pekerja di mesin-mesin

[Langkah 4]
Bertindak untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas operasi

Peran akuntansi manajemen dalam langkah ini adalah menghitung

Jika langkah 4 ini berhasil dilakukan oleh perusahaan maka akan terjadi pergeseran mesin (blog.kampuskeuangan)

Entry filed under: cost accounting. Tags: , , , , , .

Pemeriksaan Internal BPK Tinjauan atas Praktik Good Governance dalam Rencana Kerja Pemerintah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


The Shining Moon

Categories

Quotes of The Day

Visitors

  • 124,489 People

%d bloggers like this: